Tradisi Jalawastu Menjadi Penelitian LIPI

Koranku-Brebes- Lembaga Pengembangan Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian terhadap budaya Jalawastu, di desa Cieseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Selasa (21/3/17).

Jalawastu merupakan komunitas masyarakat di lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara yang melestarikan tradisi Sunda Jawa. Pedukuhan tersebut, telah terpelihara ratusan tahun lamanya dengan memegang teguh upacara adat budaya Ngasa yang digelar setiap Selasa Kliwon mangsa kasanga setiap tahunnya.

Menurut penuturan Pemangku adat setempat Dastam menjelaskan, masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan. Yang tersedia adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai makanan pokoknya dengan lauk lalapan dedaunan, umbi-umbian, pete, terong, sambal dan dedaunan lainnya.

Upacara adat Ngasa ini telah dilaksanakan oleh warga secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Upacara ini sebagai simbol tanda terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa atas segala nikmat yang telah dikaruniakan.

“Seperti di daerah pantai ada sedekah laut, di tengah-tengah ada sedekah bumi. Kami yang disini boleh dikata sebagai sedekah gunung,” ujar Dastam.

Upacara adat ini digelar setiap Selasa Kliwon pada Mangsa Kesanga. Gelaran Ngasa ini diadakan dalam kurun satu tahun sekali. Kali pertama, Ngasa digelar sejak masa pemerintahan Bupati Brebes IX Raden Arya Candra Negara.

Ngasa berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta   alam. Batara sendiri mempunyai ajudan yang dinamakan Burian Panutus. Semasa hidupnya tidak makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa.

“Semua itu, sebagai kebaktian kepada Batara,” imbuh Dastam.

Peneliti Sosial Kemasyarakatan LIPI Jakarta Riewanto Tirtosudarmo PhD menyampaikan bahwa LIPI akan terus melakukan penelitian terhadap kampung budaya Jalawastu, di desa Cieseureuh, Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Penelitian dipandang perlu mengingat pelestarian budaya akan mewarnai keteguhan nilai-nilai suatu daerah yang muaranya menjadi kekayaan nasional yang adi luhung.

Menurut Riwanto di jalawastu ada semangat konservasi lingkungan sebagai usaha yang bagus untuk menyelamatkan lingkungan. “Ternyata, lingkungan ada hubungannya dengan masyarakat adat di dalamnya,” ucapnya.

Mereka, lanjut Riwanto tidak hanya bisa memanfaatkan  lingkungan hutan, tetapi juga sama memperlakukan hutan seperti halnya manusia. Sama-sama mahluk seperti manusia yang harus dikasih sayangi dipelihara, dilestarikan dan dihargai. “Cabut rumput saja, menurut aturan adat Jalawastu sudah sangat tabu,” ungkapnya.

“Saya yakin, pengembangan kedepan akan lebih menyentuh karena peran Pemkab, Perhutani,   masyarakat setempat sudah saling klik,” pungkas Riwanto.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Brebes Amin Budi Raharja menjelaskan, Dukuh Jalawastu telah sejajar dengan masyarakat adat lainnya yang telah dikenal lebih dahulu di Indonesia, seperti kaum Samin, masyarakat tengger Banyumas dan lain-lain.

Leave a Reply