Teknologi dan Pertumbuhan Sang Galaksi

Ahli Astronomi sudah menemukan cara memantau bagaimana cara ‘pertumbuhan’ galaksi Bima Sakti. Untuk pertama kalinya, ilmuwan membuat sebuah pemetaan ‘Galaksi Map’ Galaksi Bima Sakti

KoranKu – Indonesia – Ahli Astronomi sudah menemukan cara memantau bagaimana cara ‘pertumbuhan’ galaksi Bima Sakti. Untuk pertama kalinya, ilmuwan membuat sebuah pemetaan ‘Galaksi Map’ Galaksi Bima Sakti.

Dengan membuat sebuah grafik atau gambar pertumbuhan Kosmik dan bintang dari Galaksi Bima Sakti, di mana para ilmuwan menggabungkan riset dari survei  Sloan Digital Sky serta menggunakan teknik terbaru untuk mengukur umur dan kandungan  dari sebuah bintang di Bima Sakti.

Terlihat bahwa kepingan pusat Galaksi Bima Sakti terus ‘Bertumbuh’ dan berdekatan dengan kumpulan bintang raksasa tua usia sekitar 13miliar tahun  dengan warna Merah.

Di sisi luar Galaksi Bima Sakti, nampak bintang-bintang yang usianya lebih muda dan diperkirakan usianya baru mencapai sekitar  1 miliar tahun serta ditandai dengan warna Biru.

“Yang bisa kami lakukan adalah memahami dan menunggu bahwa pembentukan Galaksi secara rinci, melihat penyebaran usia, Gradien usia, bagaimana usia suatu bintang atau Galaksi berubah sebagaimana ditunjukkan dari fungsi panjang serta garis tengah kepingan galaksi,” ujar Melissa Ness saat pertemuan di American Astronomical Society.

Data ini menunjukkan bahwa galaksi Bima Sakti terus ‘Bertumbuh’ dari 100ribu hingga 160ribu tahun cahaya.

“Dekat dengan pusat galaksi, kami melihat bintang terbentuk ketika mereka masih baru dan kecil. Sementara di luar pusat Bima Sakti, kami melihat bintang muda dan kecil. Kami menyimpulkan bahwa galaksi kita bertumbuh ke Luar”. kata Melissa Ness.

Peta ini tersusun dari data Survei dan Riset APOGEE (Apache Point Observatory Evolution Experiment) yang dapat mengidentifikasi  300 bintang secara menyeluruh. Ilmuwan pun menggabungkan Riset  dan Survei pemantauan Teropong Antariksa Keppler hingga akhirnya survei data 70 ribu bintang merah dapat disusun ke dalam peta atau Galaksi Map

Untuk mengukur usia sebuah bintang, ilmuwan punya cara dan metode tersendiri. Ness beserta Tim dan Koleganya dari Max Planck Institute for Astronomy,  Jerman menggunakan Data Riset dan  Survei Spektrum Sloan dan dibantu Teleskop Antariksa Kepler yang dapat menjelaskan tentang umur dan kandungan kimia dari sebuah bintang.

Ilmuwan pun menyadari  usia sebuah bintang dengan menganalisa rasio konsentrasi karbon dan nitrogen yang terpancar atau tepampang  dengan menganalisa spektrum bintang. Bintang-bintang tua dan besar  yang ditandai dengan warna merah memiliki kadar karbon dan nitrogen paling tinggi, sementara kandungan pada bintang Muda masih kecil dan sedikit.

Secara teori, galaksi kita Bima Sakti memang diketahui membentuk dari dalam. Galaksi yang diperkirakan telah sampai pada usia 13,8 miliar tahun ini tersusun dari 27 persen susunan materi gelap yang tidak terlihat dan 5 persen susunan materi biasa

Leave a Reply