Amblasnya Harga Minyak, Bursa AS Jatuh

KoranKu – Indonesia – Kepanikan dalam pasar keuangan pada 2016 terus bertambah menakutkan. Amblasnya harga minyak mentah dunia dan gejolak perekonomian China dinilai masih menjadi penyebab utama.

Dow Jones menjadi tumbal pelemahan harga Minyak dunia setelah amblas 391 poin atau 2,39 persen pada perdagangan Jumat (15/1), menyebabkan indeks terpangkas hingga 1.437 poin hanya dalam dua minggu pertama tahun ini. Sementara indeks S&P 500 kehilangan anjlok 2,3 persen dan Nasdaq jatuh 2,7 persen ke level terendah sejak Oktober 2014.

Padahal, sebelumnya gelombang aksi jual saham dianggap telah mereda dan serangan kepanikan Wall Street berakhir. Pasalnya, Dow Jones Sempat melonjak 228 poin pada Kamis, yang merupakan hari terbaik sejak awal Desember.

“Sentimen ini didominasi oleh rasa takut. Menjelang akhir pekan yang panjang, orang-orang masih khawatir,” kata Sam Stovall, direktur strategi ekuitas di S&P Capital IQ.

Pelemahan pasar saham pada Jumat dipicu oleh pelemahan lanjutan harga minyak mentah dan bursa China yang jatuh ke situasi yang lesu (bearish). Pasar saham AS juga terseret ke beberapa level yang menakutkan, dimana S&P 500 sempat menembus ke bawah tingkat terendah pada 24 Agustus 2015 sebelum akhirnya rebound.

“Ada kegilaan yang terburu-buru untuk keluar dari pasar saham. Terdapat satu arah dalam perdagangan ini dalam jangka pendek, yaitu level bawah,” kata Peter Kenny, ahli strategi pasar independen dan pendiri Kenny’s Commentary.

Bahkan Gedung Putih juga ikut mengamati adanya gejolak di pasar keuangan baru-baru ini. Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan bahwa pejabat sedang mengamati secara seksama pergerakan pasar dan dampak potensialnya terhadap ekonomi AS.

Kejatuhan Harga Minyak Menghantui Wall Street

Harga saham telah terseret jatuh bersama dengan harga minyak mentah, yang anjlok 6 persen pada Jumat lalu ke level US$29,28 per barel. Level harga minyak termurah sejak akhir 2003.
Terjunnya harga minyak tersebut dipicu oleh tanda-tanda bahwa sanksi terhadap Iran bisa dicabut pada akhir pekan ini, dan menambah potensi banjir pasokan minyak.

Sementara itu, terjunnya harga minyak berdampak positif bagi banyak konsumen karena memangkas harga bahan bakar di SPBU, memiliki efek negatif untuk harga saham. Minyak murah bakal menghantam laba perusahaan-perusahaan energi yang telah menyusut.

Harga saham yang amblas dalam indeks S&P 500 pada Jumat lalu kebanyakan berasal dari sektor energi, seperti saham Marathon Oil (MRO) dan Consol Energy (CNX) yang jatuh 10 persen atau lebih.