Senapan Pembunuh (AR-15) Terjual 30 Ribu Unit

Senapan serbu laras panjang AR-15 laris manis usai penembakan di kelab gay Orlando yang menewaskan 50 orang.

KoranKu – Amerika Serikat – Senapan serbu laras panjang AR-15 laris manis usai penembakan di kelab gay Orlando yang menewaskan 50 orang.

Senapan  pembunuh itu menjadi senjata favorit pelaku penembakan massal di Amerika Serikat dan menjadi sasaran perdebatan pengendalian senjata.

Sebuah took ddi Amerika Selatan bahkan telah menjual lebih dari 30 ribu pucuk AR-15 dalam sepekan usai penembakan di Orlando.

Toko yang berdiri di Bellevue, Pennsylvania yang bernama Hunter’s Warehouse mengakui penjualan AR-15 meningkat usai pelaku penembakan di Orlando, Omar Mateen menggunakannya dalam insiden.

Senapan semi-otomatis yang merupakan pengembangan dari senjata serbu M-16 militer ini juga digunakan dalam berbagai peristiwa penembakan di AS.

Kejadian di San Bernardino tahun lalu yang sudah menewaskan 14 orang, pembantaian 27 siswa dan guru di SD Sandy Hook dan pembunuhan 12 orang di bioskop Aurora pada tahun yang sama yaitu 2012.

Tom Engle selaku pemiliki Hunters Warehouse, mengatakan bahwa peningkatan penjualan bukan karena adanya penembakan.

Tetapi karna perdebatan pemerintah soal larangan penjualan senjata itu ke public.

“Saat masyarakat terancam kehilangan hak mereka untuk membeli senjata tertentu, maka mereka mencara i menjadi dan ingin memilikinya”, ungkap Tom Angle.

Saat  1994 senapan serbu seperti senjata AR-15 ini sempat dilarang penjualannya di AS,  tetapi pada tahun 2004 larangan ini kadaluarsa dan tidak diperpanjang berkat lobi ketat NRA.

Senjata AR-15 ini memiliki banyak sekali aksesoris, bisa dimodifikasi dan bida di padukan dengan senjata lain agar lebih bervariasi .

“Polisi dan sipil membeli AR-15 karena satu senapan ini bisa digunakan untuk olahraga, berburu dan dalam skenario kekerasan, oleh seorang amatir. Dalam hal ini, AR-15 pada dasarnya adalah Lego raksasa untuk orang dewasa”, ungkap Stokes.

Leave a Reply