Kapolres Brebes Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Berita Hoax

KoranKu-Brebes-Ramainya informasi yang tidak benar (Hoax) melalui media sosial khususnya di wilayah Kabupaten Brebes, tentang adanya orang yang berpura-pura gila kemudian menculik anak-anak untuk  diambil organ dalamnya. Informasi tersebut telah menimbulkan keresahan di lingkungan warga masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Brebes AKBP Luthfie Sulistiawan SIK meminta kepada masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi berdedarnya informasi yang membuat masyarakay menjadi resah.

Kapolres mengatakan sebagai salah satu imbas dari beredarnya informasi tersebut adalah adalah terjadinya penganiayaan terhadap seorang laki-laki tanpa identitas karena dicurigai akan menculik anak. Kejadian ini terjadi didesa Tegalreja Kecamatan Banjarharjo Kabupatem Brebes, Selasa (7/3/17) kemarin.

Yang kemudian dari hasil introgasi korban diketahui bernama Toto warga Kabupeten Kuningan, Jawa Barat. Korban sendiri saat ini tengah menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Brebes akibat luka yang dialamai usai dianiaya oleh warga setempat.

Kapolres menegaskan pihaknya sangat menyayangkan atas kejadian tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian terulang kembali, pihaknya mengajak kerjasama kepada seluruh instansi dan dinas terkait serta masyarakat utuk lebih bijak dalam menyikapi situasi yang tengah berkembang terkait informasi adanya penculikan anak.

“Berita bohong kerap berdampak fatal, terutama bagi kalangan masyarakat yang tak mengkonfirmasi ataupun mengecek kebenarannya. Hal inilah yang terjadi di Desa Tegalreja, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah kemarin,” kata Kapolres.

Aksi penganiayaan dari sejumlah warga itu, lanjut Lutfie ditengarai lantaran hoax yang selama ini berkembang di media sosial (medsos) dan dari mulut ke mulut. Beredar kabar, penculik anak berkeliaran dengan menyamar sebagai orang gila dan gelandangan berpakaian kumal.

“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi informasi yang tengah menjadi virat tersebut,” tegas Kapolres.

Sementara itu, berbagai langkah telah dilakukan oleh jajaran Kepolisian Resor Brebes untuk menanggulangi kejadian sama terulang kembali. Selain melakukan sosialisasi bahwa informasi tesebut adalah belum tentu benar (hoax) melalui beberapa akun dimedia sosial, langkah lain juga telah ditempuh dengan memaksimalkan peran Bhabinkamtibmas dimasing-masing Polsek untuk bisa disampaikan kepada warga binaanya.

Selain itu, pihaknya  juga telah membuat surat kepada seluruh Kepala Desa (Kades) untuk membantu mensosialisasikan hal ini agar warga tidak resah. Disamping itu juga telah dicetak sedikitnya 5000 brosur dan puluhan spanduk yang berisi bahwa berita penculikan itu adalah berita bohong.

“Waspada terhadap kejahatan memang perlu. Pesan kami kepada warga, jika mengetahui ada orang asing dilingkungan tempat tinggal silahkan langsung menghubungi Kepolisian terdekat dan warga agar tidak main hakim sendiri,” pungkasnyaarak beredarnya informasi yang tidak benar (Hoax) melalui media sosial khususnya di wilayah Kabupaten Brebes, tentang adanya orang yang berpura-pura gila kemudian menculik anak-anak untuk  diambil organ dalamnya. Informasi tersebut telah menimbulkan keresahan di lingkungan warga masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Brebes AKBP Luthfie Sulistiawan SIK meminta kepada masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi berdedarnya informasi yang membuat masyarakay menjadi resah.

Kapolres mengatakan sebagai salah satu imbas dari beredarnya informasi tersebut adalah adalah terjadinya penganiayaan terhadap seorang laki-laki tanpa identitas karena dicurigai akan menculik anak. Kejadian ini terjadi didesa Tegalreja Kecamatan Banjarharjo Kabupatem Brebes, Selasa (7/3/17) kemarin.

Yang kemudian dari hasil introgasi korban diketahui bernama Toto warga Kabupeten Kuningan, Jawa Barat. Korban sendiri saat ini tengah menjalani perawatan di RSUD Kabupaten Brebes akibat luka yang dialamai usai dianiaya oleh warga setempat.

Kapolres menegaskan pihaknya sangat menyayangkan atas kejadian tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian terulang kembali, pihaknya mengajak kerjasama kepada seluruh instansi dan dinas terkait serta masyarakat utuk lebih bijak dalam menyikapi situasi yang tengah berkembang terkait informasi adanya penculikan anak.

“Berita bohong kerap berdampak fatal, terutama bagi kalangan masyarakat yang tak mengkonfirmasi ataupun mengecek kebenarannya. Hal inilah yang terjadi di Desa Tegalreja, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah kemarin,” kata Kapolres.

Aksi penganiayaan dari sejumlah warga itu, lanjut Lutfie ditengarai lantaran hoax yang selama ini berkembang di media sosial (medsos) dan dari mulut ke mulut. Beredar kabar, penculik anak berkeliaran dengan menyamar sebagai orang gila dan gelandangan berpakaian kumal.

“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyikapi informasi yang tengah menjadi virat tersebut,” tegas Kapolres.

Sementara itu, berbagai langkah telah dilakukan oleh jajaran Kepolisian Resor Brebes untuk menanggulangi kejadian sama terulang kembali. Selain melakukan sosialisasi bahwa informasi tesebut adalah belum tentu benar (hoax) melalui beberapa akun dimedia sosial, langkah lain juga telah ditempuh dengan memaksimalkan peran Bhabinkamtibmas dimasing-masing Polsek untuk bisa disampaikan kepada warga binaanya.

Selain itu, pihaknya  juga telah membuat surat kepada seluruh Kepala Desa (Kades) untuk membantu mensosialisasikan hal ini agar warga tidak resah. Disamping itu juga telah dicetak sedikitnya 5000 brosur dan puluhan spanduk yang berisi bahwa berita penculikan itu adalah berita bohong.

“Waspada terhadap kejahatan memang perlu. Pesan kami kepada warga, jika mengetahui ada orang asing dilingkungan tempat tinggal silahkan langsung menghubungi Kepolisian terdekat dan warga agar tidak main hakim sendiri,” pungkasnya

Leave a Reply